Opini: Kenaikan Isa Al-Masih dalam Perspektif Islam, Antara Keyakinan dan Kehormatan Kenabian
- May 30, 2025
- by Wahyu Ferdinan
KIM - Setiap tahun, Tepatnya 29 Mei umat Kristiani memperingati peristiwa Kenaikan Isa Al-Masih atau Yesus Kristus ke surga sebagai bagian dari rangkaian keimanan mereka. Namun, bagaimana pandangan Islam terhadap peristiwa tersebut? Apakah Islam membenarkan bahwa Isa ‘alaihis salam naik ke langit? Dan apa makna di balik keyakinan itu dalam ajaran Islam?
Dalam Al-Qur’an, sosok Isa Al-Masih (disebut sebagai Nabi Isa putra Maryam) menempati posisi yang sangat mulia. Beliau adalah salah satu dari ulul azmi, yakni nabi-nabi pilihan yang memiliki keteguhan luar biasa. Islam menegaskan bahwa Isa adalah seorang nabi dan rasul, bukan Tuhan, dan bukan anak Tuhan. Namun menariknya, Islam juga mengakui bahwa Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit.
Al-Qur’an dalam Surah An-Nisa ayat 157-158 menyatakan:
“...padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, yang sebenarnya diserupakan bagi mereka... Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Ayat ini menjadi dasar utama bagi umat Islam untuk meyakini bahwa Nabi Isa tidak wafat di kayu salib, sebagaimana yang diyakini dalam doktrin Kristen, melainkan diangkat langsung ke sisi Allah dalam keadaan hidup.
Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurtubi menafsirkan ayat ini sebagai bentuk kemuliaan dan perlindungan dari Allah terhadap nabi-Nya. Ini merupakan bentuk pembelaan Ilahi terhadap seorang rasul yang menghadapi makar dari kaumnya.
Dalam Islam, peristiwa diangkatnya Nabi Isa ke langit bukanlah legitimasi keilahian beliau. Justru, itu adalah tanda kebesaran Allah dan bentuk pemuliaan atas hamba-Nya yang setia. Kenaikan Isa tidak menjadikannya sebagai Tuhan atau bagian dari Tuhan, melainkan tetap dalam posisi sebagai hamba dan rasul Allah.
Ini sejalan dengan prinsip dasar tauhid yang menolak segala bentuk pengkultusan terhadap makhluk, termasuk terhadap nabi sekalipun. Maka, Islam melihat kenaikan Isa sebagai penghormatan, bukan sebagai pembenaran atas ketuhanan.
Dalam hadis-hadis shahih, Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa Nabi Isa akan turun kembali ke bumi menjelang hari kiamat, sebagai tanda-tanda besar kiamat. Ia akan meluruskan ajaran yang telah diselewengkan dan memerangi Dajjal, serta memerintah dunia dengan keadilan.
Dengan demikian, kenaikan Isa ke langit dalam Islam tidak hanya menjadi bagian dari sejarah kenabian, tetapi juga berhubungan erat dengan eskatologi Islam.
Kenaikan Isa Al-Masih dalam perspektif Islam adalah bagian dari keyakinan terhadap hal-hal gaib yang telah diwahyukan dalam Al-Qur’an. Ini menjadi pengingat bagi umat Islam tentang bagaimana Allah menjaga para nabi-Nya, serta pentingnya memahami peristiwa-peristiwa besar agama secara proporsional, tanpa mencampuradukkan antara akidah dan sejarah.
Bagi umat Islam, memuliakan Nabi Isa bukan berarti menyembahnya, melainkan menempatkannya sebagaimana Allah telah menempatkannya: sebagai nabi, rasul, dan hamba yang saleh.***