Hari Anak Nasional: Saatnya Dengarkan Suara Anak, Bukan Hanya Rayakan Mereka

  • Jul 23, 2025
  • by Wahyu Ferdinan

KIM - Setiap tanggal 23 Juli, bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN)—momen yang sejatinya menjadi refleksi bersama atas sejauh mana kita memenuhi hak-hak anak, bukan sekadar seremonial tahunan. Tema-tema indah kerap digaungkan: “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” atau “Anak Bahagia, Indonesia Sejahtera”. Namun, apakah anak-anak kita sungguh telah dilindungi, didengarkan, dan diberdayakan?

Di berbagai daerah, HAN dirayakan dengan lomba mewarnai, pawai pakaian adat, hingga pertunjukan bakat anak-anak. Ini hal baik, tapi belum cukup. Di balik tawa anak-anak yang tampil di panggung, masih banyak anak yang kehilangan panggung untuk bersuara—anak-anak jalanan, pekerja anak, korban kekerasan, dan mereka yang tumbuh dalam kemiskinan struktural.

Menurut data KPAI, kasus kekerasan terhadap anak terus terjadi dari tahun ke tahun, baik secara fisik, psikis, hingga seksual. Ironis, ketika kita merayakan HAN dengan pesta, sementara ada anak-anak yang bahkan tidak punya ruang aman untuk sekadar bermain atau belajar.

Kita terlalu sering berbicara tentang anak, tapi terlalu jarang berbicara dengan anak. Mereka dianggap objek pembangunan, bukan subjek yang memiliki hak untuk menyampaikan pendapatnya. Padahal, Undang-Undang Perlindungan Anak mengamanatkan bahwa suara anak harus menjadi pertimbangan dalam setiap kebijakan yang menyangkut hidup mereka.

Sudah saatnya sekolah, keluarga, dan negara membuka ruang partisipasi bagi anak-anak. Ajak mereka berdiskusi, dengarkan mimpi dan ketakutan mereka, beri mereka kesempatan untuk ikut membentuk dunia yang akan mereka tinggali.

Memperingati Hari Anak Nasional harus lebih dari seremoni. Ini adalah panggilan untuk evaluasi: apakah kita sudah menciptakan ekosistem yang sehat bagi tumbuh kembang mereka? Apakah anak-anak desa mendapatkan pendidikan yang sama baiknya dengan anak-anak kota? Apakah semua anak bisa tumbuh tanpa takut disakiti?

Anak-anak bukan hanya penerima masa depan, mereka adalah penentu masa depan. Jika hari ini kita gagal melindungi dan memberdayakan mereka, maka kita gagal membangun bangsa.

Hari Anak Nasional bukan hanya milik anak-anak, tapi milik semua orang dewasa yang punya tanggung jawab moral dan sosial untuk menjaga mereka. Mari ubah peringatan ini menjadi momentum nyata: berani dengar, berani berubah. Karena masa depan Indonesia bergantung pada cara kita memperlakukan anak-anak hari ini.